Tuesday, March 31, 2015

Makalah Sistem Informasi Manajemen Proyek "SCOPE MANAGEMENT"

Ditulis : Ehans Wijaya
Universitas : MaChung

Bab 1
                                                                      Pendahuluan             

1.1  Latar Belakang Permasalahan
Banyak orang dan organisasi yang saat ini memiliki minat dalam melakukan manajemen proyek. Sampai tahun 1980, manajemen proyek lebih difokuskan pada penyediaan jadwal dan data sumber daya yang nantinya diberikan kepada top management yang ada dalam industri militer, komputer, dan konstruksi. Rata-rata manajemen proyek akan melibatkan banyak orang di setiap industri dan setiap negara yang mengelola proyek tersebut. Teknologi baru telah menjadi faktor yang signifikan dalam banyak bisnis. Perangkat keras seperti komputer, perangkat lunak, jaringan, dan penggunaan interdisciplinary dan global work teams secara radikal telah mengubah lingkungan kerja.
Berdasarkan survei dan pengamatan yang ada, bahwa total belanja secara menyeluruh dalam pembelian barang teknologi, jasa, dan staf diperkirakan mencapai $2,4 triliun pada tahun 2008, dan meningkat 8 persen dari tahun 2007. Pembelian IT di Amerika Serikat tumbuh kurang dari 3 persen, sedangkan sisanya dari Amerika yang diperluas dalam mata uang lokal di tingkat 6 persen. Asia Pasifik dan daerah pengekspor minyak Eropa Timur, Timur Tengah, dan Afrika merupakan negara yang paling cepat pertumbuhan teknologinya.
Berdasarkan survei dan pengamatan di atas telah menunjukkan bahwa pentingnya manajemen proyek di masyarakat saat ini, terutama untuk proyek-proyek yang melibatkan  teknologi informasi (TI). Perlu diperhatikan juga bahwa proyek-proyek yang melibatkan IT menggunakan hardware, software, dan jaringan untuk menciptakan suatu produk, layanan, atau hasil.


1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalah yang diuraikan, maka secara garis besar rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini adalah :
1.      Bagaimana mempersiapkan tahapan dalam pengerjaan sebuah projek manajemen dari awal pengerjaan sampai hasil akhir ?

1.3  Tujuan
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penulisan makalah ini, diantaranya :
1.      Mempersiapkan tahapan pengerjaan projek manajemen dari awal pengerjaan sampai hasil akhir.

1.4  Manfaat
Manfaat yang diperoleh dengan dibuatnya makalah ini, diantaranya :
1.      Memahami cara menghemat waktu, anggaran, dan meningkatkan keberhasilan dalam menjalankan sebuah projek manajemen. 


Bab II
Pembahasan

2.1 Pengertian Scope Management
Scope management mencakup proses-proses yang terlibat dalam sebuah proyek dengan mendifinisikan dan mengendalikan apa yang akan dikerjakan. Dengan menerapkan scope management dapat memastikan bahwa tim proyek dan stakeholder memiliki pemahaman yang sama tentang produk yang akan diproduksi dan proses yang akan digunakan untuk mencapai hasil. Ada lima proses utama yang terlibat dalam scope management, yaitu :
1.      Collecting requirements
Mendefinisikan dan mendokumentasikan fitur dan fungsi produk yang dihasilkan selama proyek serta proses yang digunakan untuk menciptakan kebutuhan stakeholder dalam dokumentasi, rencana pengelolaan persyaratan, dan traceability matrix sebagai output dari proses collecting requirements.
2.      Defining scope
Mendefinisikan ruang lingkup sangat penting dalam menentukan keberhasilan sebuah proyek karena dapat meningkatkan akurasi perkiraan waktu, biaya, dan sumber daya. Yang kemudian didefinisikan dasar untuk pengukuran kinerja dan pengendalian proyek, dan memberikan tanggung jawab kerja yang jelas. Alat utama dan teknik yang digunakan meliputi penilaian para ahli, analisis produk, identifikasi alternatif, dan fasilitas lokakarya. Meninjau proyek charter, persyaratan dokumen, dan aset proses organisasi untuk membuat ruang lingkup, menambahkan informasi lebih lanjut sebagai syarat untuk dikembangkan dan perubahan permintaan untuk disetujui. Tujuan utama dari proses defining scope yaitu memahami ruang lingkup sebuah projek dan dokumen projek yang selalu update.
3.      Creating the WBS (Work Breakdown Structure)
Pengelompokan deliverables proyek besar menjadi lebih kecil, sehingga lebih mudah untuk dikelola. Proses ini akan menghasilkan Work Breakdown Structure (WBS), kamus Work Breakdown Structure (WBS), dasar ruang lingkup proyek, dan update untuk dokumen proyek.
4.      Verifying scope
Memeriksa kembali bahwa proyek tersebut masih didukung oleh stakeholder, seperti pelanggan dan sponsor, memerika, dan kemudian secara resmi menerima deliverables selama proses berlangsung. Jika deliverables tidak dapat diterima, pelanggan atau sponsor biasanya meminta perubahan. Yang dihasilkan dari proses ini yaitu deliverables sudah diterima dan permintaan perubahan.
5.      Controlling scope
Mengatur dan mengendalikan perubahan pada ruang lingkup proyek di seluruh kegiatan proyek, termasuk tantangan yang ada pada proyek-proyek teknologi informasi. Perubahan ruang lingkup sering mempengaruhi kemampuan sebuah tim untuk memenuhi waktu proyek dan anggaran biaya. Manajer proyek harus berhati-hati dalam mempertimbangkan semua biaya yang ada dan manfaat dari perubahan ruang lingkup tersebut. Yang dihasilkan dalam proses ini yaitu permintaan perubahan, pengukuran prestasi kerja, aset proses organisasi yang selalu update, perencanaan dalam pengelolaan proyek, dan dokumen proyek.

2.2 Collecting Requirements
Langkah pertama yang dilakukan pada scope management adalah collecting requirements. Langkah ini merupakan langkah yang paling sulit karena konsekuensi utama bila tidak mendifinisikan persyaratan dengan baik, harus melakukan pengerjaan ulang dimana dapat menghabiskan setengah dari biaya proyek, terutama untuk proyek-proyek pengembangan perangkat lunak. Pada gambar 2.1, memperbaiki perangkat lunak yang rusak dalam tahap pembangunan menghabiskan banyak biaya. Bagian yang tersulit bahwa orang sering tidak konsisten dari apa yang dibutuhkan, cara mengumpulkan, dan bagaimana menulis kedalam dokumen.
gambar 2.1 Tabel grafik biaya

2.2.1 Cara melakukan collecting requirements
Ada beberapa cara untuk melakukan collecting requirements, diantaranya :
a.       Melakukan wawancara tatap muka secara langsung secara satu per satu terhadap stakeholder. Cara ini lebih efektif, meskipun memakan biaya yang mahal dan waktu yang harus terbuang.
b.      Membuat sebuah kelompok dengan memfasilitasi lokakarya, dan menggunakan kreativitas kelompok. Kemudian menggunakan decision-making untuk mengumpulkan persyaratan. Cara ini lebih cepat dan lebih murah daripada menggunakan cara wawancara tatap muka secara satu per satu.
c.       Kuesioner dan survei bisa menjadi cara yang sangat efisien untuk mengumpulkan collecting requirements dengan catatan bahwa stakeholder harus memberikan informasi yang jujur secara menyeluruh.
d.      Melakukan pengamatan dalam melakukan collecting requirements, terutama untuk proyek-proyek yang melibatkan perbaikan proses kerja dan prosedur.
e.       Prototyping adalah teknik yang umum digunakan dalam proses collecting requirements untuk proyek-proyek pengembangan perangkat lunak.

2.2.2        Document Requirements

Ada beberapa cara untuk mendokumentasikan dokumen. Pertama tim proyek harus meninjau dahulu proyek charter karena merupakan persyaratan tingkat tinggi. Selain itu juga harus meninjau keinginan stakeholder untuk memastikan bahwa semua stakeholder memiliki suara dalam menentukan persyaratan. Format untuk mendokumentasikan kebutuhan stakeholder dapat dibuat dalam daftar semua persyaratan pada sebuah kertas untuk ruangan untuk didokumentasikan.


Daftar Pustaka

No comments:

Post a Comment